Naskah sudah jadi, lalu muncul pertanyaan yang menentukan nasibnya: dikirim ke jurnal mana? Salah memilih berarti ditolak dalam hitungan hari (desk reject), atau lebih buruk, naskah terbit di jurnal yang tidak diakui.

Pilih jurnal dengan urutan berikut, jangan dari "yang katanya cepat terbit".

Langkah 1: Cocokkan fokus dan ruang lingkup (scope)

Buka halaman Aims and Scope tiap jurnal kandidat. Cek apakah:

  • Bidang dan topikmu masuk di dalamnya.
  • Jenis penelitianmu (kuantitatif, kualitatif, studi kasus) diterima.
  • Artikel terbitan terbaru sejenis dengan naskahmu.

Kalau tiga artikel terakhir di jurnal itu bertema jauh dari naskahmu, jangan dikirim ke sana. Sebagian besar penolakan awal bersumber dari ketidakcocokan scope, bukan kualitas.

Langkah 2: Cek status akreditasi lewat sumber resmi

Jangan percaya klaim di situs jurnal atau di iklan layanan. Verifikasi sendiri:

  • SINTA: cari nama jurnal di portal SINTA dan lihat peringkatnya (S1 sampai S6) serta masa berlaku akreditasinya.
  • Scopus: cek di daftar sumber Scopus (Scopus Source List) apakah jurnal itu terindeks dan berstatus aktif.
  • Garuda dan DOAJ: bisa dipakai sebagai pelengkap, tapi bukan pengganti SINTA atau Scopus bila kampusmu mensyaratkannya.

Status dan kebijakan bisa berubah, jadi cek ulang saat kamu hendak mengirim. Dan cocokkan dengan syarat kampus atau instansimu, karena peringkat yang diterima berbeda-beda.

Langkah 3: Baca author guidelines sampai tuntas

Catat hal-hal ini:

  • Jumlah kata atau halaman dan struktur yang diminta (biasanya IMRaD). Lihat cara mengubah skripsi menjadi artikel jurnal.
  • Gaya sitasi dan template naskah.
  • Bahasa naskah (Indonesia, Inggris, atau keduanya).
  • Biaya publikasi (APC) bila ada, dan kapan dibebankan.
  • Batas similarity yang diminta dan alat cek yang dipakai. Lihat Turnitin, parafrase, dan sitasi Mendeley.
  • Estimasi waktu review, tapi anggap sebagai perkiraan, bukan jaminan.

Langkah 4: Kenali tanda jurnal bermasalah

Waspadai kombinasi tanda berikut:

  • Menjanjikan terbit dalam hitungan hari tanpa peninjauan sejawat yang jelas.
  • Mengklaim terindeks tanpa bisa kamu verifikasi di portal resmi.
  • Cakupan bidang terlalu luas dan tidak fokus.
  • Dewan editor tidak jelas, tanpa afiliasi yang bisa ditelusuri.
  • Email menawarkan "undangan menerbitkan" yang tiba-tiba.
  • Biaya tidak transparan atau baru disebut setelah naskah diterima.
  • Nama atau situs menyerupai jurnal terkenal.

Satu tanda belum tentu bermasalah, tapi beberapa tanda sekaligus adalah alasan untuk berhenti dan mengecek ulang. Kalau ragu, tanyakan ke dosen pembimbing atau pustakawan kampus.

Langkah 5: Buat daftar pendek dan urutkan

Pilih tiga sampai lima jurnal kandidat. Nilai dengan tabel sederhana:

Jurnal Scope cocok Status resmi Biaya Waktu Catatan

Kirim ke satu jurnal dulu. Mengirim naskah yang sama ke beberapa jurnal sekaligus melanggar etika publikasi pada umumnya.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Memilih jurnal hanya dari rekomendasi teman tanpa mengecek scope.
  • Mengandalkan label "Sinta" di website jurnal tanpa cek ke portal.
  • Mengirim naskah berformat skripsi tanpa menyesuaikan template.
  • Tidak membaca kebijakan biaya sebelum submit.

FAQ

Skripsi sudah lulus, bisa dikirim sebagai artikel? Umumnya bisa, tapi cek kebijakan jurnal soal tesis yang sudah dipublikasikan di repositori kampus, dan pastikan naskah ditulis ulang, bukan disalin.

Harus pakai bahasa Inggris? Tergantung jurnal. Banyak jurnal nasional menerima bahasa Indonesia.

Dosen pembimbing perlu dicantumkan? Aturan kepenulisan berbeda per kampus dan jurnal. Diskusikan sejak awal.

Butuh arahan memilih jurnal dan menyiapkan naskah?

Di pendampingan publikasi artikel jurnal Sinta dan Scopus, kami membantu menyaring jurnal sasaran yang cocok dan memastikan naskahmu siap. Kamu yang menulis dan mengirim; kami yang mengarahkan. Kami tidak menjanjikan diterima atau tanggal terbit, karena keputusan ada pada editor dan reviewer.