Di sidang proposal tesis, ada pertanyaan yang hampir pasti muncul: "Apa novelty penelitianmu?" Mahasiswa S2 sering menjawab dengan topik, padahal penguji menanyakan sumbangan baru yang tidak ada di penelitian sebelumnya.

Novelty lahir dari research gap. Artikel ini membahas cara menemukan celah itu dan menuliskannya dengan meyakinkan.

Beda topik, research gap, dan novelty

  • Topik: hal yang kamu teliti ("kepemimpinan digital di sekolah").
  • Research gap: hal yang belum dijawab atau belum meyakinkan oleh penelitian yang ada.
  • Novelty: kontribusi yang kamu tawarkan untuk mengisi celah itu.

Topik yang sudah banyak diteliti tetap bisa punya novelty, selama kamu bisa menunjukkan sudut yang belum tergarap.

Langkah 1: Peta literatur

Kumpulkan sekitar 20–40 artikel terbaru (misalnya lima tahun terakhir) dari jurnal bereputasi dan buat matriks sederhana:

Penulis dan tahun Konteks Metode Temuan utama Keterbatasan

Kolom keterbatasan adalah tambang emas. Banyak artikel menuliskan sendiri celah yang belum mereka jawab di bagian saran penelitian lanjutan.

Langkah 2: Kenali jenis celah

Ada beberapa jenis research gap yang lazim dipakai:

  • Celah konteks: teori sudah teruji di satu tempat atau populasi, tapi belum di konteksmu.
  • Celah metode: penelitian sebelumnya memakai metode tertentu, kamu menawarkan pendekatan lain (misalnya mixed methods).
  • Celah variabel atau model: ada variabel mediator atau moderator yang belum diuji.
  • Celah temuan bertentangan: hasil penelitian terdahulu tidak konsisten, dan kamu menguji penjelasannya.
  • Celah waktu: temuan lama mungkin tidak berlaku lagi setelah ada perubahan besar.

Pilih satu celah yang paling bisa kamu kerjakan dengan data yang realistis kamu dapatkan.

Langkah 3: Rumuskan novelty dalam satu kalimat

Rumus yang bisa dipakai:

Penelitian sebelumnya [temuan atau pendekatan umum], tetapi [celah]. Penelitian ini [kontribusi] dengan [pendekatan atau konteks baru].

Contoh format:

Penelitian terdahulu menguji pengaruh literasi digital terhadap kinerja guru pada sekolah perkotaan, tetapi belum menguji peran budaya sekolah sebagai mediator di sekolah pedesaan. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan model mediasi pada guru di wilayah pedesaan.

Kalau satu kalimat ini belum bisa kamu tulis, novelty-mu belum matang.

Langkah 4: Tempatkan di bagian yang tepat

  • Latar belakang: bangun alur dari fenomena, ke temuan terdahulu, ke celah, ke tujuan penelitian. Celah muncul di paragraf akhir latar belakang.
  • Tinjauan pustaka: kelompokkan studi per tema dan tunjukkan di titik mana penelitianmu berdiri.
  • Tujuan dan manfaat: tulis kontribusi teoretis dan praktisnya secara spesifik.

Cara mengecek novelty tidak palsu

  • Cari kata kunci dalam bahasa Indonesia dan Inggris di Google Scholar dan Garuda. Kalau ada penelitian yang hampir sama persis, ubah sudutnya.
  • Pastikan klaim "belum ada penelitian" bisa dipertanggungjawabkan. Lebih aman menulis "masih terbatas" atau "belum banyak" daripada "belum pernah ada".
  • Tanyakan ke pembimbing apakah celah ini dianggap layak.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Mengganti objek penelitian saja dan menyebutnya novelty.
  • Menyatakan "belum ada yang meneliti" tanpa pencarian yang memadai.
  • Celah tidak nyambung dengan rumusan masalah dan metode.
  • Novelty terlalu besar untuk data dan waktu yang tersedia.

Dari tesis ke jurnal

Novelty yang jelas juga memudahkan publikasi. Kalau tesismu nanti ingin dijadikan artikel, lihat cara mengubah skripsi atau tesis menjadi artikel jurnal.

FAQ

Replikasi penelitian dianggap punya novelty? Bisa, kalau konteks atau metodenya berbeda dan kamu menjelaskan kontribusinya, tapi tanyakan ke pembimbing dan ketentuan program studi.

Berapa artikel yang perlu dibaca? Tidak ada angka pasti. Lebih penting kualitas pemetaan dan kemutakhirannya.

Mau novelty-mu diuji sebelum sidang proposal?

Lewat pendampingan tesis Risetin.id, kamu mendapat diskusi dengan pendamping sebidang tentang research gap, kerangka, dan metode, lengkap dengan catatan tertulis. Gagasan dan tulisannya tetap milikmu.